BRAHMAN
DALAM UPANISAD
I. PENDAHULUAN
Sesungguhnya,
setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak kepada
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya
Tuhan itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban
di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Semuanya itu pasti
ada sebab- musababnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala
yang ada.
Kendati kita tidak boleh cepat-cepat
percaya kepada sesuatu, namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Banyak
sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah
berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan
tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan
teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang
dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang
menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini
mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan
sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.
Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama pula
kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu
pegangan yang kokoh. Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan, yang merupakan
sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan
diri, karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Keimanan
kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan agama Hindu. Inilah yang menjadi
pokok-pokok keimanan agama Hindu. Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian
yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan
pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa,
Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga
Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada
apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan
Pelebur alam semesta dengan segala isinya.
Cara memahami bagaimana Tuhan itu,
sangatlah memiliki kesubjektifan tersediri antara masing-masing penganut suatu
agama. Seperti dalam analoginya bagaimana mengenal Tuhan yang diistilahkan
sebagai seekor gajah yang diteliti oleh tiga orang buta. Setiap orang buta
tersebut memeriksa bagian ekor, bagian telinga, serta pula bagian kakinya. Hal
tersebut akan juga menimbulkan pemahaman yang berbeda pada akhirnya bagaimana
mendeskripsikan Tuhan tersebut. Seperti pula ketiga orang buta tersebut, yang
menemukan persepsi Tuhan secara berbeda dengan hasil yang berbeda pula, maka
konsep tentang ketuhanan memiliki beberapa hasil pemahaman yang berbeda. Di
antaranya adalah paham monotheisme, politheisme, pantheisme, atau atheisme.
Paham-paham itu ada yang bertahan atau mengalami perubahan serta mulai
berkembang sebagai studi ilmu pengetahuan dan pemahaman spiritual yang sesuai
dengan pemahaman jaman dewasa ini. Berdasarkan hal tersebut maka penulis ingin
lebih memahami Brahman dan ingin lebih mengetahui tentang konsep – konsep
ketuhanan hindu terutama yang ada kaitannya dengan upanisad.
II.
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Brahman
Brahman berasal dari kata ”brh”
berarti yang memberi hidup, menjadikan kembang, meluap. Kata brahman ini
menunjukan pada pengertian aktif yang membawa pada suatu pertumbuhan yang
tidak henti-hentinya.
Adapun
pengertian Brahman yang lain yang dikemukaan oleh Swami Rama (1982:14) dalam bukunya
”Mandukya
Upanisad, Enlightenment without God ” yaitu sebagai berikut:
Kata Brahnam berasal dari bahasa
sansekerta, akar kata ”brha” atau ”brhi” yang berarti meluap/mengembang, pengetahuan atau yang
meresapi segala. Kata ini selalu dalam jenis kelamin neutrum (banci), hal ini menunjukan
bahwa Tuhan (kebenaran mutlak) berada diluar konsep jenis kelamin laki-laki (masculinum)
dan wanita (feminium) dari segala sesuatu yang bersifat dualitas.
Brahman hadir dimana-mana, maha tahu, maha kuasa, itulah sifat dasar dari satu
kebenaran mutlak. Ia adalah kebenaran sejati, kesadaran tertinggi, yang tidak
pernah dipengaruhi oleh perubahan sifat duniawi, adalah Berahman itu. Ia yang
menjadikan diriNya sendiri dan memenuhi seluruh alam semesta untuk menampakan
diriNya itulah Brahman.
Dari uraian tersebut diatas maka
pengertian brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Ada, Maha Mengetahui, Maha
Kuasa, tidak berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan, yang meresapi
seluruh alam semsta dan merupakan hakikat Sang Diri dan seluruh umat manusia.
Brahman adalah asas alam semesta, Ia yang menggunakan alam semesta sesuai
dengan kuasa dan hukum-Nya.
2.2. Wujud Tuhan dalam Agama Hindu
Pertanyaan awal yang menarik terkait dengan agama Hindu: Apakah
Tuhan Agama Hindu mempunyai wujud? Hal ini terkait dalam sistem pemujaan agama
Hindu para pemeluknya membuat bangunan suci, arca (patung-patung), pratima,
pralinga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Hal ini menimbulkan
prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi dengan mengatakan umat Hindu menyembah
berhala. Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung
adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Sebagaimana halnya jika seorang
pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai tingkat madness (tergila-gila) maka
bantal gulingpun dipeluknya erat-erat, diumpamakan kekasihnya., diapun ingin
mengambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan.
Begitu pula dalam peribadatan membawa sajen (yang berisi makanan yang lezat dan
buah-buahan) ke Pura, apakah berarti Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka
makan yang enak-enak? Pura dihias dan diukir sedemikian indah, apakah Tuhan
umat Hindu suka dengan seni? Tentu saja tidak. Semua sajen dan kesenian ini
hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan.
2.2.1. Personal God ( Saguna
Brahman )
Tuhan menurut
monotheisme Trancendent digambarkan dalam wujud Personal God (Tuhan Yang Maha
Esa Berpribadi), dan disebut juga dengan Saguna Brahman. Dalam konsep Teologi ketuhanan Saguna Brahman inilah Tuhan
dihadirkan dengan berbagai macam manifestasi yang disebut dewa. Inilah yang
menjadi alasan mengapa bagi kebanyakan orang, sosok dewa harus dihadirkan dalam
pemujaan kepada Tuhan. Bagi kebanyakan orang kehadiran Tuhan dalam
manifestasi-Nya sebagai para dewa juga masih dianggap belum mampu dihayati
secara nyata, karena masih mengandung unsur simbol yang abstrak. Dikatakan
demikian karena kehadiran Tuhan dalam manifestasi sebagai sosok dewa hanya
mengandung simbol satu dimensi (niskala) saja, yang sulit dibayangkan.
Untuk membantu kepentingan manusia dalam memuja Tuhan, maka para dewa
lebih dikonkritkan lagi dalam bentuk simbol dua dimensi, yakni dimensi sakala
dan niskala. Berdasarkan alasan inilah para dewa sebagai manifestasi
Tuhan dihadirkan sebagai wujud Energi yang ada di balik bentuk-bentuk kosmis (Donder, 2007 :329-359). Secara teologis semua
atribut kemahakuasaan Tuhan dilekatkan kepada seluruh segmen-segmen alam.
Metode teologis ini tidak dapat dikatakan sebagai tindakan dosa karena
“mempersekutukan Tuhan dengan benda”. Stigma “mempersekutukan” tidak ada dalam
kamus teologi Saguna Brahma dan pandangan Advaita. Berdasarkan
alasan itulah, maka kemahakuasaan Tuhan dimanifestasikan ke dalam segmen-segmen
alam seperti;
1. Dewa Surya
adalah manifestasi Tuhan yang ada di balik planet matahari,
2.
Dewa Soma
(Chandra) manifestasi Tuhan di balik bulan,
3. Dewa Vayu
(Bayu) manifestasi Tuhan di balik udara,
4. Dewa Agni
manifestasi Tuhan di balik api,
5. Dewa Marut
manifestasi Tuhan di balik angin,
6. Dewa Sangkara
manifestasi Tuhan di balik pohon atau tumbuhan,
7. Dewa Varuna
manifestasi Tuhan di balik samudera,
8. Akasa
merupakan manifestasi Tuhan sebagai Sang Ayah di balik angkasa, dan
9. Prthivi merupakan
manifestasi Tuhan di balik planet bumi ini, dan Dewa-dewa
lainnya.
Inilah yang mendasari filosofi teologi Saguna
Brahma sehingga kehadiran para dewa dalam sistem pemujaan sangat popular
dalam Agama Hindu. Dalam teologi Saguna Brahma-lah tersedia berbagai
metodologi-teologis, hal tersebut secara metodologis dirancang untuk membantu
setiap manusia bagaimanapun adanya dapat sampai kepada Tuhan. Itulah sebabnya
teologi Hindu lebih tepat disebut Teologi Kasih
Semesta (Donder, 2006).
2.2.2. Impersonal
God ( Nirguna Brahman )
Tuhan dalam agama Hindu sebagai
nirguna brahman
sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak
dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta
keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam
pikiran manusia. Tidaklah mudah
untuk memberikan penjelasan tentang Tuhan karena keterbatasan akal manusia, hal
itu menunjukkan begitu kecilnya manusia dihadapanNya. Meski begitu manusia
tetaplah membaktikan dirinya dihadapan-Nya sebagaimana tertuang dalam sabda suci Rg veda X.129.6 yaitu:
“Sesungguhnya siapakah yang mengenalNya. Siapa pula yang
dapat mengatakan kapan penciptaan itu. Dan kapan pula diciptakan alam semesta
ini, diciptakan dewa-dewa. Siapakah yang mengetahui kapan kejadian itu?”
Sabda suci yang
serupa juga terungkap dalam Bhagavadgita X.2 yang artinya:
“Baik para dewa maupun resi agung tidak mengenal asal
mulaKu. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber para dewa dan resi agung”.
Nirguna Brahman yang disebut juga sebagai paramasiwa,
Dalam kitab suci Weda mempunyai definisi sebagai berikut:
v Apramaya,
yaitu kemahakuasaan yang sulit dibayangkan melalui panca indra karena beliau
sangat halus dan sempurna.
v Ananta,
yaitu kemahakuasaan dilukiskan tiada terbatas, beliau ada di mana-mana, dan
beliau mampu merubah segala sesuatu yang diingini olehNya.
v Aupamya,
yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi yang sangat sulit mencari bandingannya. Karena
semua makhluk yang ada di alam semesta tidak ada menyamai kemahakuasaan-Nya.
v Anamaya,
yaitu yang Maha Suci. Beliau sangat mulia, tidak pernah menderita suatu
penyakit.
v Maha
Suksme, yaitu Maha Gaib yang sangat halus.
v Sarwagata,
yaitu Maha ada, Maha Besar meliputi seluruh jagad raya.
v Dhruwa,
yaitu sangat tenang, tiada bergerak, stabil namun Ia berada di mana mana.
v Awyayam,
yaitu Maha sempurna, walaupun Ia mengisi seluruh alam raya semesta,
kesempurnaan beliau tiada berkurang.
v Iswara,
yaitu Raja alam semesta. Ia mengatur alam raya semesta, dan tiada satupun
kekuatan yang mampu mengatur beliau.
v Swayambhu, yaitu Absolut dalam
segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya
Definisi
tentang Tuhan sebagai Nirguna Brahman diatas, meskipun telah berusaha
menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena
itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang
ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu
tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan
tidak ada definisi
yang tepat untuk-Nya, yaitu
Neti-Neti (Na + iti, na + iti), yang artinya bukan ini, bukan ini.
Paramaśiva yang
merupakan bagian dari Tri Purusha juga adalah Cetana/Purusa atau
kejiwaan/kesadaran yang tertinggi (Tuhan), suci, murni, sama sekali belum kena
pengaruh maya (Acetana/Pradhana/Prakrti) ,tenang, tentram, tanpa aktivitas,
kekal abadi, tiada berawal tiada berakhir, ada di mana-mana, maha Tahu, tidak
pernah lupa, maka dari itu diberi gelar Nirguna Brahman (Para Brahman).
Dalam Vrhaspati Tattva 7-10, disebutkan:
"Paramaśiva tattva ngaranya:
( Vrhaspati
Tattva 7-10 )
Yang disebut Paramaśiva Tattva yaitu:
“Aprameyam
anirdesyam anaupamyam anamayam suksmam sarvagatam
sarvatam nityam dhruvam avyayam isvaram".
(Vrhaspati
Tattva.7)
Artinya :
Isvara
yang tak dapat diukur, tak dapat diberi jenis, tak dapat diumpamakan, tak dapat
dikotori, maha halus, ada di mana-mana, kekal-abadi, senantiasa langgeng, tak
pernah berkurang.
"Aprameyam anantatvad
anirdesyam alaksanam anaupamyam anadrsyam
vimalatvad anamayam".
(Vrhaspati Tattva.8)
Artinya:
Tak
dapat diukur, karena Dia tak terbatas, tak dapat diberi jenis, karena dia tak
punya sifat, tak dapat diumpamakan, karena tiada sesuatu seperti Dia, tak dapat
dikotori, karena Dia tak bernoda.
"Sukamanca
anupalabhyatvad vyapakatvacca sarvagam nityakarena sunyatvam acalatvacca tad
dhruvam".
(Vrhaspati Tattva.9)
Artinya :
gaib,
karena Dia tak dapat diamati, berada di mana-mana, karena Dia menembus
segalanya, kekal-abadi, karena Dia suci murni, dan selalu langgeng karena Dia
tak bergerak.
"Avyayam paripurnatvad
saumyabhavam tathaiva ca Siwa
tattvam idam uktam sarvatah parisamsthitam".
(Vrhaspati
Tattva.10)
Artinya :
Tak
pernah berkurang, karena Dia maha sempurna, begitu pula keadaannya tengan,
inilah Śiva Tattva (Paramaśiva Tattva) yang menempati segala-galanya.
Dengan
memperhatikan kutipan tersebut, maka telah terbayang dalam pikiran kita bahwa
Tuhan Paramaśiva adalah Tuhan dalam keadaan suci murni, maka tidak ada sesuatu
yang dapat mempengaruhi Beliau, sehingga sukarlah untuk memberi pembatasan dan
memang Beliau tak terbatas, telah ada tanpa ada yang mengadakan, tiada berawal
dan tiada berakhir (Anadi-Ananta), tiada terpengaruh oleh waktu, tempat dan
keadaan,
Dalam Brahmasutra juga dinyatakan bahwa Tuhan itu,
“Tad avyaktam, aha hi”
Artinya :
“sesungguhnya Tuhan
tidak terkatakan”.
Untuk memahami Tuhan, maka tidak ada jalan lain kecuali
mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya
yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Sedangkan kitab suci Veda dan
temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui
otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Brahman memiliki 3 aspek:
1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya
Tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau.
Dengan kekuatan-Nya Brahman telah menciptakan bermacam-macam
bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia,
binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan
dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda
alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada
barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.
2. Cit: sebagai Maha Tahu
Beliaulah sumber
ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan.
Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari
bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya
(absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.
3. Ananda
Ananda adalah
kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang
diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun
terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan
kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda
ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan
yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh
binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih
tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka.
Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas
dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.
Alam semesta ini adalah fragmenNya Tuhan. Brahman memiliki
prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh
waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta
untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah
baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman.
Jiwa
atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia
yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bnda-benda (materi)
di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam
semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di
dalam tubuh Brahman.
2.3. Brahman dalam Upanisad
Diantara
pokok permasalahan yang penting dan mendasar yang dibahas dalam upanisad adalah
Brahman. Brahman dalam Upanisad adalah pengada segala yang ada atau yang
mendasari semua keberadaan ini. Brahman adalah realitas tunggal yang benar-benar
ada. Dalam hal ini, upanisad mengenal dua konsep ketuhanan yaitu:
2.3.1.Monoteisme
Taittiriya
Upanisad memberikan sebuah pengertian tunggal tentang istilah Brahman. Sebagai
jawaban atas permintaan dari Bhrgu kepada ayahnya Varuna agar mengajarkan
kepadanya tentang Brahman, Varuna menawarkan pengertian sebagai berikut, “Yang
daripada-Nya segala mahluk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka hidup,
ketika berangkat mereka masuk, mencari tahu itu, yang adalah Brahman.” Menurut
Upanisad, Brahman adalah yang menjadi sebab utama dan fungsi kosmis utama yakni
asal mula (srsti), kehidupan (sthiti), dan kematian (pralaya) alam semesta.
Badarayana juga mengambil pengertian yang sama tentang Brahman yang jelasnya
dan bacaan Vedantasütra yaitu sebagai janmady-asya-yatah, yang artinya, yang
daripadanya berasal dan lain-lain, dan jagat raya yang dihasilkan. Sutra ini
berdasarkan bacaan pada Taittiriya Upanisad. Pada pendapat Badarayana,
jagat-kraiiatva atau yang menjadi penyebab utama dan tiga kali lipat fungsi
kosmis adalah suatu sifat yang berbeda dan Brahman dan hal itu diterima sebagai
sebuah kriteria penting untuk menentukan apakah itu atau bukan istilah semacam
ãkasa dan prana yang terdapat dalam Chandogya Upanisad menunjukkan Brahman.
Ketika menjelaskan tentang Brahman, tidak Upanisad dan tidak juga Badaryana
menyebutkan bahwa pengertian ini dapat digunakan hanya untuk Brahman yang lebih
rendah (apara) dan tidak untuk Brahman yang lebih tinggi (para). Kedua Upanisad
tersebut dan Vedãntasutra mengacu kepada satu Brahman yang lebih tinggi (para).
Kedua Upanisad tersebut dan Vedantasütra mengacu kepada satu Brahman yaitu
hanya sebagai penyebab utama jagat-raya.
Monoteisme
menyatakan kepercayaan tentang adanya satu Tuhan. Konsep ajaran ini dapat
dilihat dari kutipan sloka berikut:
Indram mitram varunam agnim ahur
Atho divyah sa suparno garutman,
Ekam sadviprah bahudha vadanthi
Agnim yamam matarisvanam ahuh.
Rgveda
I . 64. 46
Mereka
menyebutkan dengan Indra, Mitra, Varuna dan Agni,ia yang bersayap keemasan
Garuda, Ia adalah Esa, para maharsi ( vipra /orang bijaksana ) member banyak
nama, mereka menyebutkan Indra Yama, matarisvan.
Disini Tuhan Yang Maha Agung
digambarkan sebagai kebenaran yang Maha Esa, satu kebenaran.
Keesaan TuhanYang Maha Tunggal
dijelaskan secara gamblang dalam mantram berikut :
Tad eva agnis tad adityas
Tad vayus tad u candramah,
Tad eva sukram tad brahma
Ta apah sa prajapatih.
Yajurveda
XXXII . 1
Sesungguhnya
ia adalah Agni, Ia adalah Aditya,
Ia
adalah Vayu, Ia adalah Candram, I adalah Sukra, Ia adalah Brahma, Iaadalah
Apah, Ia adalah Esa itu adalah Prajapati.
Berdasarkan
kutipan mantram-mantram veda diatas jelas bagi kita bahwa ketuhanan dalam veda
adalah esa ,namun orang-orang bijaksana menyebutkan dengan banyak nama.
2.3.2. Panteisme
Panteisme atau pantheisme dalam
bahasa Yunani terdiri dari dua kata yaitu : πάν (pan) adalah semua dan θεός
(theos) adalah Tuhan. Jadi secara harafiah artinya adalah “Tuhan adalah
Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Ini merupakan sebuah pendapat bahwa segala
barang merupakan Tuhan abstrak imanen yang mencakup semuanya; atau bahwa Alam
Semesta, atau alam, dan Tuhan adalah sama. Upanisad mengandung ajaran paham
panateisme dimana dalam upanisad menyatakan tuhan adalah segala-galanya yang
maha tahu yang mendasari semua keberadaan alam semesta dan tidak terbatasadanya
( Tuhan bersifat absolute ) hal ini dapat kita lihat dalam kutipan beberapa mantram
sebagai berikut :
“Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta
Satyam jnanam anantam Brahma veda
Nihitam guhayah parame vyman so ‘ snute
Kaman vipascita iti”
Satyam jnanam anantam Brahma veda
Nihitam guhayah parame vyman so ‘ snute
Kaman vipascita iti”
(Taittiriya Upansad, 2.1.1)
Artinya
:
“Ia
yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, Pengetahuan dan tidak terbatas. Ia
yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia
yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang Maha
Mengtahui”
“Isawasya idam sarwam yat kinca
jagatyam jagat tenatyaktena bhunjitha magradhah kasya swiddhanam “
(Isa Upanisad, 1 )
Artinya
:
“Sesungguhnya
apa yang ada di ala mini, yang berjiwa ataupun yang tidak berjiwa ,dikendalikan
oleh Isa ( Brahman), oleh karena itu orang hendaknya menerima apa yang perlu
dan diperuntukkan baginya dan tidak menginginkan milik orang lain”
Berdasarkan kutipan tersebut dapat kita tarik kesimpulan
bahwa Brahman adalah yang maha kuasa atas segala sesuatu yang ada di dalam
semesta ini yang menguasai alam semesta ini yang bersifat tidak terbatas. Hal
ini menunjukkan bahwa ajaran Brahman dalam upanisad menyiratkan adanya paham panteisme.
III.
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.1. Brahman adalah
Tuhan Yang Maha Esa, Maha ada, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, tidak berjenis
kelamin laki-laki ataupun perempuan, yang meresapi seluruh alam semesta dan
merupakan hakikat Sang Diri dan seluruh umat manusia.
3.2.Dalam agama hindu mengenal adanya wujud Tuhan dalam
wujud personal God yani tuhan dalam wujud pribadi dan impersonal God yakni
tuhan yangtidak terjangkau dan diluar angan – angan pikiran manusia.
3.3. Dalam upanisad mengenal dua konsep yaitu :
1.
Monoteisme dimana hindu mengenal adanya satu Tuhan tiada duanya
2.
Panateisme dimana dalam upanisad menyatakan sifat tuhan tanpa batas
DAFTAR PUSTAKA
Titib,I Made. Untian
Inti Sari Upanisad. Yayasan Dharma Narada. 1994
Titib,
I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol
dalam Agama Hindu. Penerbit Paramita: Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar